Open post

Dibuat “Merinding Disko” Saat Bertualang dalam Museum Kesehatan Surabaya

Sebuah bangunan museum dibangun oleh pengurusnya dengan arah untuk simpan bermacam koleksi benda lama (kuno) yang mengikuti perjalanan hidup anak manusia.

Sebuah museum disebutkan menarik karena mungkin bermacam benda kuno yang tersimpan, style arsitektur gedung yang jadi museum, manajemen yang baik, tatanan letak (layout) koleksi benda kuno dalam museum atau bahkan juga sarana pendukung yang ada dalam atau di luar gedung museum.

Prasasti penandatanganan Museum Kesehatan (dok. Mawan Sidarta) Surabaya sebagai kota tua sekalian metropolitan ke-2 sesudah Jakarta pasti mempunyai beberapa museum yang memikat. Diantaranya adalah Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH yang ada di Jalan Indrapura 17, Kemayoran, Krembangan – Surabaya.

Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH dahulunya adalah rumah sakit kelamin yang saat itu memakai istilah Instansi Penjakit Kelamin. Disahkan oleh Dr. J Leimena sebagai menkes saat itu. Penandatanganan prasasti dilaksanakan pada tanggal 10 November 1951. Sementara upacara penempatan batu pertama dilaksanakan oleh Heronimus Widodo Soetopo.

Terlihat depan gedung Museum Kesehatan Surabaya (dok. Mawan Sidarta) Sesudah lewat rangkaian pembaruan dan pembaruan, pada tanggal 16 Desember 2003 museum disahkan oleh Dr. Soemartono DHSA sebagai kepala Pusat Riset dan Peningkatan Servis Tehnologi Kesehatan Surabaya (Puslitbang Yantekkes).

Museum Kesehatan Surabaya tidak terlepas dari layanan seorang pelopor namanya DR. dr. Haryadi Suparto DOR MSc APU. Selang satu tahun selanjutnya yakni tanggal 14 September 2004, Achmad Sujudi yang saat itu memegang sebagai menkes kembali resmikan pemakaian Museum Kesehatan Dr. Adhyatma MPH dan terbuka untuk didatangi warga umum.

Ticket masuk Museum Kesehatan Surabaya (dok. Mawan Sidarta) Untuk mengeruk info lebih dalam mengenai Museum Kesehatan Surabaya dan apa daya magnetnya, saya coba bercakap-cakap rileks dengan Husnan, seorang guide (pemandu) museum. Lawatan dan interviu kami kerjakan 2 tahun lalu, saat sebelum menyebarnya wabah Covid-19, persisnya tanggal 23 Juli 2018.

Beberapa suara yang tersebar di tengah-tengah warga, yang menjelaskan jika Museum Kesehatan itu menyeramkan kemungkinan tidak terlalu berlebih. Lah wong demikian saya masuk (dekat patung ganesha) dan melihat secara sekilas ruang samping dalam langsung saja bulu kuduk ini bergidik disko. Untung saja si guide dengan rendah hati sudi temani saya. Rasa takut sayapun jadi raib saat itu juga.

Open post

Terbelenggu Kata “Kapan”, Menikah pun Kejar-kejaran

Semenjak sekian tahun terakhir, saya sering mendapatkan pertanyaan “kapan nikah?”. Atau sekedar hanya “sudah punyai calon belum?”. Atau kritikan bersuara memberi tahu, seperti “habis ini buruan mencari pasangan”.

Juga pernah dalam satu peristiwa lebaran, mendadak salah satunya sanak saudara menanyakan dengan suara keheranan “lha, mana tunangannya?”.

Ehm! Untuk seorang yang masih belum betul-betul terpikir untuk menikah, rasanya sebel dan marah sich dengan beberapa pertanyaan itu. Entahlah semenjak kapan hidup saya seakan-akan jadi punya seseorang.

Ah, tetapi saya lupa. Kita hidup di budaya kelompok, seperti umumnya negara Asia yang lain. “Hidupku hidupku, hidupmu hidupku”, kemungkinan kasarnya demikian.

Belum juga, bila tiba ke acara pernikahan, entahlah berapakah kali saya dengar seseorang doakan saya. “Mudah-mudahan selekasnya susul ya sesudah ini”, kata salah seorang ibu rekan saya saat itu. Jujur saja bahkan juga waktu itu saya malas untuk mengaminkannya. Walau saya ketahui betul itu ialah doa yang bagus. Tetapi, apalah diri ini belum betul-betul memikir menuju situ.

Pertanyaan “kapan” yang mengurung

Sesungguhnya jika diingat kembali, tidak cuma pertanyaan “kapan nikah?”, tapi juga sering “kapan lulus kuliah?”, “kapan mulai kerja?”, “kapan punyai anak?”, atau “kapan sang kakak punyai adek?”.

Ya, kelihatannya kata “kapan” di sini memang mempunyai arti terakhir untuk sedikit mengganggu ketenangan batin seseorang. Walau di satu segi, juga bisa sesungguhnya kita menyaksikan beberapa pertanyaan ini sebagai wujud positif kepedulian seseorang pada kita, yaitu dengan sebatas mengingati.

Tetapi, sering yang menanyakan karena argumen kepo atau, entahlah, mengkritik kemungkinan. Saya individu sich seringkali berasa disinggung dibanding dihiraukan.

Dan makin pertambahan umur, makin bertambah yang bertanya mengenai “kapan” ini. Tetapi makin pertambahan umur, makin bertambah ketrampilan latih kebal diri pada pertanyaan “kapan”. Ya, yang diperlukan hanya, “cuekin saja”.

Open post

Yuk, Memasak Tongseng Ayam dengan Resep Praktis Ala “Me”

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, turuti salurannya, lalu kau rasakan, jika dunia itu cantik, tanpa satu pertentangan, nyaman, nyaman, teratur, seperti derap irama alam bersatu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tetapi tidak pernah berbeda, imbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah menyumbang…

Seterusnya

Tutup

Telah akhir pekan kembali nih. Dapat dong salurkan hoby. Mumpung liburan. Diantaranya ialah hoby mengolah. Hem, asyiknya masak apa ya? Udara dingin, ingin makan yang hangat-hangat. Tapi jika masaknya itu-itu saja, bosen nih. Etapi, jika masak yang repot tidak mau. Penginnya masak ringkas, tetapi nikmat.

Apa lagi untuk angkatan milenial, penginnya makanan yang nikmat, tetapi mudah dapatnya. Jika jajan setiap hari, selain boros, tidak bagus untuk kesehatan. Karena jika jajan itu kadang tidak terjaga kebersihannya, tidak tahu bahan yang digunakan, atau tidak tahu langkah mengolahnya, sudahkah sesuai standard atau belum. Lantas, masak apa dong, untuk pemula, mengolah yang tidak repot dan dapat dilaksanakan di dalam rumah?

Aha! Masak Tongseng Ayam, yok!

Loh? Bukanlah mengolah dengan bumbu tongseng itu repot? Eh, tidak ! Gampang kok. Cuman perlu kreasi dan cari langkah ringkas supaya bisa mengolah dengan gampang. Bagaimana triknya?

Ssst… sesungguhnya ini ialah resep rahasia, tapi tidak papah dech dipisah di sini. Buat kalian, angkatan milenial, supaya suka mengolah, karena mengolah sendiri itu rupanya tidak repot.

Yok, biarlah kreasi bekerja!

Umumnya nih, tongseng itu sama dengan daging kambing. Tapi tidak harus. Kamu dapat berkreatifitaskannya dengan daging ayam. Kadang antara kita ada yang tidak suka daging kambing atau disarankan kuranginya. Nah, mengolah tongseng ayam itu salah satunya jalan keluar supaya masih dapat nikmati tongseng. Selain bisa lebih cepat masak, lebih gampang.

So, rahasianya ialah memadankan bumbu instant dengan bumbu alami. Tsaaah… hasilnya masih cetar dan sedap. Upayakan saat menggunakan bahan dan bumbu instant, yang telah sesuai SNI, ya. Karena lebih terjaga mutunya. Mudah kok carinya. Di pasar atau mini pasar.

Baik, persiapkan bahan dan bumbunya lebih dulu. Baca, ya.

Bahan yang dipakai:

  • 500 g daging ayam yang telah dipotong dan dibersihkan sampai bersih.
Open post

Arisan RT, Perekat atau Pemutus Silaturahmi?

sepupunya telah 2 bulan belum bayar arisan. Ingin ditagih, tagih ke mana. Alamat anyarnya juga kami tidak tahu.”

Sang D selanjutnya menghubungi sepupunya lainnya, “Bayarlah arisan adikmu, malu. Di daerah itu ia pergi ninggalin hutang.”

Pada akhirnya sepupu D tiba ke tempat itu, membayar hutang adiknya. Hutangnya tidak banyak, tetapi malunya segunung.

Itu salah satunya cerita yang memperkuatku untuk malas tergabung arisan daerah. Entahlah RT, pengajian, atau komune apa saja. Beberapa orang memandang itu ciri-ciri orang tidak ingin berkawan, saya sich tidak ingin banyak argumen. Jika itu ukuran baik/tidaknya seorang masyarakat, ya biarlah.

Saat masih kerja, ada juga arisan antarkaryawan. Tujuh tahun saya di situ, tidak pernah sekalinya saya turut arisan. Ingin disebut tidak gaul? Dari kepentingan uang, hutang, sampai HP hang, entahlah punya sama-sama pegawai, sampai punya bos, saya yang bereskan.

Jadi pikirkan kembali untuk mengaitkan seorang tidak ingin berkawan, karena hanya dia tidak turut arisan.

Simak juga: Pulau Dengan harga Rumah

Factor selanjutnya karena mungkin saya malas berutang. Bayar arisan rasanya serupa dengan bayar cicilan. Saya tipikal penabung, bukan pengangsur. Walaupun yang ditabung tidak membukit, tetapi itu lebih menentramkan daripada uang belum pada tangan tetapi bon telah di muka mata.

Terima pada awal, di bulan-bulan akhir berasa lelahnya. Terima diakhir, harap-harap kuatir bila ada yang tidak bayar. Kasus pada awal artikel ini bukanlah salah satu yang pernah kusaksikan. Masihlah ada kasus yang lain bahkan juga kualami sendiri, walau tidak langsung.

Bahkan juga saat sebelum kita pisah rumah dari orangtua, atau belum menikah, penawaran untuk turut arisan telah tiba dari koordinator daerah (apa istilah persisnya ?)

Mamakku tidak senang berutang, tetapi senang turut arisan. Argumennya arisan sama dengan menabung. Jadi bukan satu dua account (tentu bukan ini istilahnya) yang Mamak punyai. Untuk satu barisan arisan, Mamak punyai sampai tiga. Umumnya satu atau dua digunakan namaku.

Open post

Rupiah, Dinar-Dirham, dan Pengecualiannya

Uang sebagai alat ganti adalah instrumen yang diketemukan manusia kekinian sesudah manusia tinggalkan babak purbakala yang lakukan transaksi bisnis dengan ganti mengganti atau barter yang berada di indo.

Uang memiliki arti bermakna dalam memengaruhi kehidupan manusia kekinian karena nilai yang terdapat didalamnya.

Dengan nilai uang seorang dapat tentukan penawaran harga satu produk atau layanan supaya bisa terjadi persetujuan atas transisi yang diinginkan baik oleh produsen atau customer secara adil.

Nilai uang bisa juga tentukan gengsi dan harkat martabat seorang. Semakin banyak seorang dapat kumpulkan uang semakin naik gengsi dan harkat martabatnya di mata warga.

Majalah Forbes cermat menyaksikan keperluan rasa ingin ketahui berapa kaya seorang, dengan membuat tiap tahun rangking kekayaan

beberapa konglomerat dunia, atau orang kaya lokal tiap negara, terhitung Indonesia. Tiap tahun saat Forbes umumkan ranking beberapa orang kaya selalu mengundang perhatian warga untuk memerhatikan dan mengomentarinya dalam bermacam versus.

Nilai uang tidak cuma bermakna untuk perseorangan dalam mengurus usaha dan hidupnya, tetapi juga bermanfaat untuk Pemerintahan untuk mengelola keuangan dan ekonomi negara supaya bisa diatur untuk menyejahterakan rakyatnya.

Uang dibikin dari persyaratan, bahan yang tahan lama dari aktivitas dipindahkan tangankan, mudah dibawa dan relatif susah untuk dipalsukan. Pada jaman dulu uang dibikin dari logam mulia atau semacam logam, salah satunya dinar, dirham.

Di Indonesia sampai saat ini juga masih dibuat uang dengan bahan semacam logam, misalkan, uang koin rupiah.

Selanjutnya seterusnya saat ini biasanya di dunia, uang diciptakan berbahan kertas atau plastik atau dikenali dengan uang fiat (Fiat Money), salah satunya uang kertas rupiah, US dollar, ringgit kertas, dollar Australia.

Uang memiliki bahan kertas atau diberi nama “Uang Fiat” (Fiat Money) pemakaiannya pertama kalinya. Sterdaftar di Tiongkok seputar tahun 1000 Masehi (Wikipedia).

Selanjutnya belakangan ini kita mengenali uang di dunia maya yang diberi nama uang elektronik, contoh. Skartu Brizzi dari BRI, kartu Flazz dari BCA dan lain-lain, atau uang yang dipakai. Sdalam pembayaran lewat Genius, Gopay, Ovo, Bitcoin, Etherium dan lain-lain.

Pengacara dan Dosen Kampus Trisakti

Seterusnya

Tutup

Open post

Siasat Mencari “Kui-jin”, agar Hidup Lebih Hoki

Pegiat rantai supply dan penyediaan barang/layanan di industri minyak dan gas Indonesia dengan minat di dunia rekreasi, politik, sosial, budaya, kepemudaan, sastra dan organisasi. Penulis buku Horizon terbitan Ellunar Penerbit/publisher dan urun menulis buku antologi puisi Elipsis terbitan Ellunar Penerbit/publisher dan Di Balik Ruangan Tanpa Garis Jumpa terbitan Alinea Publishing. Pendiri dan praktisi literasi Sudut Baca Muaradua (POBAMA) sebagai induk Taman Baca Mekakau Ilir (TABAMA), Galeri Baca Ranau (GABARA) dan Taman Baca Padang Bindu (TAPADU)

Seterusnya

Tutup

HIV/AIDS, JAUHI PENYAKITNYA BUKAN ORANGNYA.

Seputar nyaris sepuluh tahun kemarin, saat masih aktif beraktivitas di salah satunya cabang dari organisasi kepemudaan. Spaling besar di dunia yakni AIESEC Local Committee Bandung, kami pernah. Smengadakan sebuah project sosial yang namanya Proyek Based on Exchange (PBoX) HIV/AIDS.

PBoX HIV/AIDS ini berupa sebuah project sosial yang mengikutsertakan beberapa pemuda transisi. Sdi luar negeri dan beberapa komune yang perduli dengan HIV/AIDS di kota Bandung.

Arah aktivitas ini untuk menghidupkan kesadaran warga mengenai HIV/AIDS dan mengurangi stigma negatif pada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

Publikasi mengenai HIV AIDS bersama rekanan transisi dari Tiongkok di Car Free Day Dago.Sumber: dokumentasi individu Sepanjang project ini berjalan kami teratur bersama beberapa rekanan kami peserta transisi dari beberapa negara melangsungkan beberapa acara. Sseumpama dialog dan seminar dengan beberapa ODHA, lakukan publikasi dan seminar mengenai HIV/AIDS di Car Free Day Dago dan beberapa tempat yang lain. Sbahkan juga tiba dan berperan serta langsung dengan laga bola di Lapangan UPI bersama beberapa ODHA dari Yayasan Rumah Cemara.

Menggedor Stigma Negatif Pada Beberapa ODHA

Mempersiapkan Acara PBoX HIV AIDS bersama rekanan transisi dari Selandia Baru dan Tiongkok. Sumber: dokumentasi individu

Salah satunya seminar yang kami selenggarakan untuk tingkatkan kepedulian warga pada bahaya HIV AIDS. Sumber: dokumentasi individu

Apa yang pertama tebersit dalam pemikiran kita mengenai beberapa orang yang menanggung derita HIV/AIDS (ODHA). Kemungkinan umumnya dari kita langsung akan memikir negatif mengenai mereka. Dalam pikiran kita mereka ialah beberapa orang yang “nakal” dengan pegaulan bebas dan terjangkit dari rutinitas seksual yang liar dan penggunaan narkoba. Sdengan jarum suntik secara berganti-gantian dan lain-lain.

Open post

Indonesia Bukan Hanya Bali, NTT Tidak Cuma Komodo

Industri pariwisata Indonesia tidak dapat dipisah dari Pulau Bali, sebuah Wilayah Arah Rekreasi yang mempunyai keelokan alam yang mempesona dan kekayaan budayanya yang memikat. Bahkan juga Pulau Dewata, panggilan Bali, sudah jadi maskot pariwisata Indonesia semenjak tahun 1970-an, saat banyak propinsi lain seolah belum sadar akan kekuatan wisatanya semasing.

Tetapi, Indonesia tidak cuma Bali. Demikian juga dengan NTT yang mempunyai Komodo, satu dari “The New 7 Wonders of Nature”. Propinsi inipun masih simpan sejuta daya tarik yang lain akan membuat kamu takjub!

Propinsi Bali memang berlainan. Baik background budayanya, atau daya tarik alamnya yang demikian mengagumkan. Sebagian besar persyaratan menjadi tujuan rekreasi favorit berada di Bali. Bahkan juga infrastruktur dan sarana pendukung pariwisata di Bali termasuk kelas dunia. Dari lapangan terbang berstandar internasional sampai beberapa ratus hotel berbintang yang kemungkinan cuma dapat disaingi ibu-kota Jakarta.

Jejeran angka statistik jumlah lawatan pelancong luar negeri dari tahun ke tahun juga semakin memperjelas status sentra Bali dalam peta pariwisata nasional.

Di tahun 2019, misalkan, dari jumlahnya 16.1 juta lawatan pelancong luar negeri, seputar 39% salah satunya bertandang ke Bali. Demikian menguasai, kan?

Itu penyebabnya, sejak dahulu sampai sekarang, promo pariwisata Indonesia sering bertopang pada Bali. Dalam acara pameran pariwisata internasional, misalkan, delegasi Indonesia yang tampil jadi “Seller” atau “Exhibitor” selalu dikuasai peserta asal Bali. Baik dari Hotelier, Agen Perjalanan Rekreasi (BPW), atau dari Pengurus Pertunjukan Rekreasi yang lain.

Sebutlah saja di gelaran seperti ITB (Internationale Tourismus-Borse) di Berlin, WTM (World Travel Pasar) di London, dan sebagainya. Di moment yang umumnya dituruti Kemenparekraf, beberapa BPW dari bermacam propinsi yang lain tawarkan tujuan di luar Bali, seperti Lombok, Labuan Bajo, Sumba, sampai Tana Toraja, dan lain-lain, juga sering kerjasama dengan BPW asal Bali.

Pura Batu Bolong- Bali. Sumber: koleksi individu Kerjasama ini tentu saja mempunyai tujuan supaya Tur Operator yang mengirimi tamunya ke Bali, siap melirik tujuan yang lain sesudah berkunjung Bali. Baik sebagai satu kesatuan paket atau sebagai program tur tambahan. Bali juga diinginkan jadi pusat redistribusi pelancong luar negeri ke daerah lain di Indonesia.

Open post

Waspada, Jangan Titip Nomor WhatsApp di Sembarang Grup Medsos!

Tempo hari malam, Kamis (4/2/2021), saya mendapatkan berita dari rekan, jika nomor WhatsApp kepunyaannya diretas dan disalahgunakan oleh pelaku yang tidak bertanggungjawab.

Saya dikasih tahu sehabis saya membalas sebuah pesan masuk, mengeluarkan bunyi: “Dapat mnta tolong tolong tidak”. Pesan itu sesungguhnya masuk pada Rabu (3/2/2021) malam, jam 22.55 WIB. Hanya, saya baru membalas esoknya, karena saya telah tidur.

Saat sebelum membalas, saya mendapati fenomena di bunyi pesannya. Karena, umumnya ia buka pembicaraan dalam kata “Gan…” atau “Mas…”, dan kadang mengikutkan nama saya. Pesan saya balas dengan kalimat: “Tolong apa, gan? Sori, saya baru balas”.

Lalu ia membalas balik: “Tidak boleh ditanggepin, mas. WhatsApp-ku telah terkena retas. Alhamdulillah ini baru kembali lagi sesudah saya adukan ke support@whatsapp.com. Bukan Mas Tuho saja yang di-WA-in, tetapi semua nomor yang berada di contact saya, ia WA-in dengan alasan minta bantuan (uang)”.

Untuk pastikan, saya selanjutnya menghubungi ia agar menceritakan mengenai urutannya. Ia menjelaskan, awalannya terima SMS sah dari WhatsApp yang didalamnya code verifikasi. Dan sesaat, tampil pesan dari nomor pemakai WhatsApp berpose profile karyawan minimarket.

Pemakai nomor WhatsApp barusan meminta untuk mengirim code 6 digit, sambil meminta bila code itu ialah angka voucer game yang keliru nomor pengangkutan.

Dan sebab menganggap kasihan dan percaya, rekan saya tanpa berpikir panjang mengirimi code itu. Seterusnya, dalam perhitungan detik, program WhatsApp di smartphone-nya ter-logout. Ia pada akhirnya tersadarkan bila nomor WhatsApp-nya telah berpindah pemakai.

Di selang pembicaraan, saya ikut membludakkan rasa sedih padanya. Permasalahannya, rekan saya ini seorang praktisi sosial media, yang saya harap tidak melakukan tindakan sebodoh itu.

Untung saja saya tidak membalas secara cepat. Dan untung juga orang yang lain dikontak malam itu tidak melayani sang aktor. Mungkin belum punyai uang atau sadar bila keinginan itu ialah penipuan. Saya benar-benar mengucapkan syukur.

Surat keinginan pengembalian akun WhatsApp | Document individu (tangkapan monitor) Apa kejadian yang menerpa rekan saya adalah hal baru? Pasti, tidak. Tentu beberapa orang di luaran sana yang alami hal sama. Siapakah aktornya? Ya, beberapa orang yang tidak bertanggungjawab, yang manfaatkan peluang dan kelihaiannya untuk menipu orang-orang.

Open post

Rasanya Digantung Pacar Tak Segalau Digantung Covid-19 c

Ada yang pernah rasakan bimbangnya digantung oleh kekasih? Atau justru saat ini kalian sedang rasakan kebimbangan itu.

Tentu tidak nikmat ya rasanya. Disebut kekasih tetapi tidak ada putih di atas hitamnya eh salah ya. Hehehe. Tidak ada pengakuan sah dari dirinya jika kalian ialah pacarnya. Di ngomong rekan tetapi kok mesra dan mengharap pernyataan lebih.

Ada pula yang telah ‘nembak’ mengatakan cinta tetapi belum diberi jawaban diterima atau tidaknya. Satu hari 2 hari sich masih tenang tetapi jika sudah beberapa minggu menanti tentu campur baur dech hatinya dari bimbang sampai gemes bagaimana begitu. Maunya geram tetapi sudah terburu sayang. Cie cie.

Rupanya hati bimbang itu seperti terulang lagi kembali ke diriku. Saat sebelum terjadi salah paham saya imbangi dahulu persepsinya ya. Bukan hati bimbang karena digantung wanita ya. Kelak dapat ribet jika sampai jadi isu dan trending apa lagi jika sampai kedengar oleh telinga isteri. Bisa-bisa ia ikut-ikutan bimbang.

Yang kurasakan ini bimbang karena digantung oleh sang virus ganjen Covid-19. Lho kok dapat. Iya, tetapi ini bukanlah karena saya cinta tetapi malah sebaliknya. Jika seperti kekasih saya sesungguhnya telah meminta putus dan sang Covid ucapnya telah ngomong sepakat tetapi kok masih senang peluk-peluk saya.

Sesudah satu bulan lebih jalani isolasi dan rawat inap di dalam rumah sakit karena perselingkuhan terlarang dengan sang Covid. Semestinya saya dan sang virus telah setuju akan pisah.

Dan beberapa dokter menjadi saksi akan ini. Tetapi bingungnya rupanya sang Covid kelihatannya 1/2 hati melepasku. Apa karena mungkin saya tampan ya jadi ia demikian cinta mati padaku. Hehe, beri pujian diri kita tidak apa lah daripada tidak ada yang beri pujian.

Saya dapat ngomong demikian karena permintaanku supaya sang Covid tidak memperlihatkan diri dan pergi menjauh rupanya tidak digubris. Ia tetap teridentifikasi saat saya lakukan tes swab pcr.

Walau sebenarnya surat negative swab benar-benar kubutuhkan untuk faksi tempatku bekerja. Ini sebagai bukti jika perselingkuhanku dengan sang Covid usai sudah.

Open post

Mengenang Jockie Suryoprayogo: Musiknya Berjiwa dan Bercerita

3 tahun berlalu, persisnya tanggal 5 Februari 2018, Salah satunya pakar legendaris sudah itu berpulang. Saya ingin menulisnya, karena dari zaman masih koloran kemana saja sampai zaman korona membuat saya takut kemana saja, beberapa lagu mendiang masih kerap saya dengar.

Untuk saya, Jockie Suryoprayogo adalah dari 2 dewa musik Indonesia, kecuali Ian Antono. Ia bukan hanya dapat bertanding di beberapa saluran – dari Rock, Jazz, sampai Pop. Tetapi musiknya dapat membuat lagu apa saja jadi mahal dan khusus.

Saya paling senang God Bless, Chrisye, Andi Mariem Mattalata, Dian Pramana Poetra – saat beberapa lagu mereka mendapatkan sentuhan mendiang. Kemungkinan terdengarannya terlalu radikal ya. Tetapi memang demikian kok. Sumpah. Bukanlah beberapa nama legendaris itu menjadi kedodoran tanpa mendiang lho. Mereka masih yang terbaik, tanpa atau dengan musikus specialist keyboard ini. Namun Jockie, menurut saya, membuat mereka prima.

Chrisye, misalkan. Jujur, beberapa lagu yang saya gemari dari vokalis yang legendaris ini ialah saat masih bersama Yockie dan Eros Djarot. Yang menghasilkan beberapa lagu kekal jenis Sabda Alam, Malam Pertama, dan Smaradahana.

Group rock legendaris God Bless sama juga. Saya paling senang saat susunannya masihlah ada Yockie ada di belakang Keyboard. Memang sich, saat ini banyak yang ngomong album Cermin – yang minus Yockie – ialah yang paling cendekia. Tetapi karena mungkin itu saya butuh waktu dua puluh tahun buat pahami baiknya di mana. Itu juga dapat menjadi salah pahami. Hehehe.

Sementara beberapa lagu God Bless yang plus Jockie- seperti Huma di Atas Bukit, She Passed Away, Badut-Badut Jakarta, Maret ’89, Menjilat Matahari, Apa Berita – tidak perlu gunakan lama. Pertama dengar langsung hinggap di batin dan sampai saat ini menampik keluar.

Classic dan progresif. Kemungkinan itu dua kata yang dapat digunakan memvisualisasikan ciri-ciri musiknya Jockie. Banyak komposer lain kemungkinan dapat membuat lagu bagus. Tetapi Jockie satu diantara sedikit yang dapat menemaninya dengan melodi yang seakan hidup, berjiwa, dan menceritakan. Tanpa perlu lirik.

Dengan jari-jarinya, saya tak perlu menanti reffrain untuk rasakan ‘tendangan’ sebuah lagu. Bahkan juga saya tak perlu menanti vokalisnya mulai menyanyi. Dengarkan intro-nya saja telah rasakan klimaks pertama.

Posts navigation

1 2 3 4 5 6
Scroll to top
error: Content is protected !!