Open post

Syukurlah Insentif Nakes Batal Dipangkas, Kenapa Ya Pemerintah Sering Banget Revisi Kebijakan?

Pemerintahan lewat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pastikan jika stimulan untuk tenaga medis tetap dilanjutkan sampai tahun akhir 2021, walau besarannya ada peluang akan terkena potong.

“Untuk kesehatan, Bapak Presiden memutus stimulan nakes dilanjutkan tahun 2021 walau magnitude-nya di turunkan,” katanya di pertemuan bersama Komisi XI, Rabu (27/01/21).

Berita ini tentunya cukup menyesakan untuk beberapa nakes yang sudah berusaha siang malam menjaga pasien terkena Covid-19 yang semakin hari semakin melonjak.

Seperti kita kenali pergerakan tambahan kasus positif Covid-19 dalam 1 bulan akhir lagi eskalatif, perpecahan rekor kasus positif harian seringkali kedengar terakhir sampai beberapa lalu kasus positif Covid-19 di Indonesia tembus angka psikis 1 juta kasus.

Sampai ini hari Kamis (04/02/21) menurut situs Covid19.go.id kasus positif ada diangka 1.111.671 kasus positif, dalam jumlah kematian sekitar 30.770 jiwa dan yang sukses sembuh 905.665 orang.

Maknanya kasus aktif yang saat ini sedang dirawat atau karantina mandiri dengan status enteng. Ssedang, dan berat ada sekitar 175.236 kasus.

Angka ini membuat keadaan rumah sakit di sejumlah wilayah khususnya yang ada di zone merah. Sampir bangkrut. Sdi DKI Jakarta misalkan tingkat keterisian ruangan riskan khusus Covid-19 atau Bed Occupancy Rate berada di angka 85 %.

Dengan bukti semacam ini, automatis penekanan pada nakes yang bekerja tangani Covid-19 akan makin berat. Sdan fatigue dapat menerpa mereka setiap saat.

Keadaan ini cukup tragis saat. Sdengar berita jika stimulan untuk nakes gagasannya akan di turunkan sampai 50 % untuk tahun 2021 ini.

Saya yakini beberapa petugas klinis dari bermacam jenjang kemungkinan tidak jadikan stimulan itu sebagai. Sarah khusus saat mereka menjaga pasien Covid-19 atau pasien berpenyakit apa saja.

Tetapi tentu saja mereka akan. Smengucapkan terima kasih dan berasa jadi perhatian seandainya stimulan. Situ diberi. Ssekurang-kurangnya besarannya sama dengan tahun 2020 kemarin.

Open post

Akun Sosial Media di Pemerintahan Jangan Sekadar Punya!

Di zaman saat ini banyak info menyebar lewat sosial media. Kecepatan info di media sosial ini, dapat menaklukkan sebuah kalimat old school “Tidak boleh keras – keras, tembok dapat berbicara”.

Apa yang terjadi di Aceh langsung bisa kedengar di Papua, apa yang ramai di Jakarta, dapat membuat ramai satu negara. Bahkan juga portal informasi kerap jadikan apa yang ramai dibicarakan oleh netijen jadi informasi. Karena hal itu, kedatangan media sosial dapat membunuh beberapa media konservatif yang lain.

Keramaian media sosial ini, pada akhirnya digunakan oleh pemerintahan pusat atau wilayah untuk memakai media sosial. Tetapi apa sosial media yang dipakai telah efisien atau belum? Lantas apa sebagai tanda account sosial media pemerintahan itu telah efisien atau belum?

Untuk pemerintah yang ingin manfaatkan dan mempunyai sosial media apa cukup sekedar hanya posting aktivitas? Lantas bagaimana semestinya perlakukan sosial media itu?

Nah… Saya akan share pengetahuan sedikit, berdasar pengalaman lebih dari 4 tahun menggenggam account media sosial di salah satunya pemerintah.

Dari 4 tahun menggenggam account media sosial pemerintah ini, seputar 5 penghargaan tingkat nasional telah saya peroleh. Semua penghargaan itu saya capai dari bermacam instansi yang melangsungkan penilaian pada media komunikasi pemerintahan.

Sebagai catatan, penghargaan itu bukan penghargaan individu tetapi atas nama instansi pemerintah. Sebagai Social Media Spesialis, saya berperan jadikan media sosial punya account pemerintahan itu dikenali khalayak, pesan tersampaikan secara baik, dan bagaimana jadikan media sosial itu sebagai fasilitas yang efisien!

Pasti juga, penghargaan ini bukanlah hal yang perlu dikejar tetapi bagaimana sosial media anda datang dan berguna untuk masyarakat pemerintah anda. Bila anda menggenggam account pemerintahan kota, ya berguna dan bermanfaat untuk masyarakat kota anda.

Sama juga saat anda menggenggam account pemprov atau negara sekalinya. Karena konsepnya, account media sosial yang anda urus harus lah berguna dan bukan sekedar punyai.

  1. PAHAMI DULU APA ITU MEDIA SOSIAL!
Open post

Wakaf dan Ekonomi Syariah, Antara Perspektif Ekonomi dan Pendidikan

Hari hari ini diskursus mengenai ekonomi dalam masyarakat ramai mengulas mengenai wakaf dan ekonomi syariah. Ini dipacu dengan dicanangkannya Pergerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) oleh Presiden Jokowi pada Senin pekan kemarin (25/1/2021).

Selanjutnya, Senin tempo hari (1/2/2021) Presiden Jokowi resmikan berdirinya PT Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai penyatuan tiga bank syariah himbara (Himpunan Bank Punya Negara).
[H2] Wakaf dan Ekonomi Syariah dalam Sudut pandang Ekonomi [/H2]

GNWU dan BSI sesungguhnya bukan barang baru. Keinginan pemerintahan untuk jadikan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi syariah paling besar di dunia di tahun 2024 sangat menggebu. Apa lagi di ajang internasional, Indonesia dikenali sebagai negara dengan komunitas muslim paling besar di dunia yang pasti berpotensi ekonomi yang besar sekali.

GNWU dan BSI ialah kerja hasil riil dari Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) yang dibuat pemerintahan berdasar Ketentuan Presiden nomor 28 tahun 2020.

Presiden Jokowi sebagai ketua KNEKS menjelaskan jika dibuatnya KNEKS adalah wujud usaha pemerintahan cari jalan kurangi tertimpangan sosial dan merealisasikan pemerataan pembangunan di semua penjuru tanah air.

Saat itu Wakil Presiden Ma’ruf Amin sebagai ketua harian KNEKS mengatakan jika KNEKS konsentrasi meningkatkan empat hal, yaitu peningkatan industri produk halal, industri keuangan syariah. Sdana sosial syariah, dan peluasan usaha atau usaha syariah.

Menyaksikan rincian ini, bisa kita simpulkan jika arah peraturan KNEKS ialah sektor ekonomi untuk tingkatkan kesejahteraan ekonomi rakyat. Baik arah dicanangkannya GNWU atau dibangunnya BSI nampak meruncing pada arah dan arah yang serupa.

Tentu saja, ada-ada saja pemerhati ekonomi atau pemerhati peraturan pemerintahan yang berpendapat miring pada peraturan ini. Ada yang menjelaskan jika peraturan ini memperlihatkan ketidakberhasilan pemerintahan mengurus ekonomi di periode wabah. Ekonomi kita awali bangkrut hingga berkesan pemerintahan “mengemis” dari rakyatnya dengan program wakaf dan pengokohan ekonomi syariah.

Seperti kita kenali, wabah covid-19 yang menerpa dunia satu tahun akhir ini benar-benar sangat besar efeknya pada ekonomi negara. Sebagian besar negara di dunia alami krisis ekonomi.

Keadaan susah krisis ekonomi mengakibatkan banyak karyawan yang terserang Pemutusan Jalinan Kerja (PHK). Sdaya membeli warga turun, dan angka kemiskinan yang makin bertambah.

Open post

Kecolongan WNA Jadi Bupati Terpilih, Di Mana Gerakan Satu Data?

Pergerakan satu data didengungkan pada Pemilihan presiden 2019. Bak gayung bersambut, sesudah dikukuhkan sebagai Presiden masa ke 2, Joko Widodo menandatangani Ketentuan Presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2019 mengenai Satu Data Indonesia pada 12 Juni 2019.

Peraturan ini mempunyai tujuan agar memberi info ke khalayak. Pemerintahan bisa kumpulkan data pada sebuah pintu yang canggih, terintegrasi, dan gampang dijangkau.

Seperti, data kependudukan, keimigrasian, pangan, energi, infrastruktur, maritim, pengajaran, kesehatan, ekonomi, industri, pariwisata, sampai reformasi birokrasi. Keterpaduan beberapa data yang tepat bisa meminimalkan pemakaian hoax atau informasi tidak betul.

Tetapi, sesudah nyaris 2 tahun, khalayak tersentak. Kok, dapat seorang yang dengan status WNA dapat bebas mencalonkan diri jadi kepala wilayah, diverifikasi oleh instansi berkuasa, dan memenangi pemilihan kepala daerah? Kesan-kesan saya, ini mengagumkan amburadul.

Orient Patriot Riwu Kore, bupati dipilih Kabupaten Sabu Raijua, NTT hanya cerita kecil begitu koruptifnya birokrasi administrasi kependudukan kita. Mujur, Kedutaan Besar AS bersurat dan memberitahu kita. Karena itu, pemerintahan berpura-pura terhentak. Khalayak juga terbelalak.

Kasus sama pernah terjadi pada Arcandra Tahar. Sesudah dikukuhkan jadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2016, baru dijumpai mempunyai kewarganegaraan ganda. Kedudukan sementara ditarik. Pemerintahan memburu selamatkan muka (malu).

Proses cepat peneguhan dilaksanakan kembali sebagai masyarakat negara Indonesia. Arcandra dikukuhkan kembali sebagai Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dua minggu sesudahnya.

Seterusnya, cara apa yang dilaksanakan pada Orient Patriot Riwu Kore. Khalayak gampang menerka arah prosesnya berbuntut. PDIP sebagai partai simpatisan mustahil kehilangan peluang. Seperti sangat lapar, dan nasi telah dalam piring, justru ingin ditumpah oleh seseorang.

Khalayak telah menyangka, Bupati Sabu Raijua dipilih tentu dikukuhkan. Cuman digeser sedikit waktunya. Menanti masalah cukup redah. Sementara KPUD-KPU Pusat pantang meminta maaf. Kementerian Dalam Negeri, terutamanya sektor Dukcapil terlepas tangan.

Substansinya, data kependudukan kita masih bonyok. Konektisitas data huru-hara. Administrasi Negara dalam pergerakan satu data cuman eforia semata-mata. Usai di tanda-tangan Perpres.

Pada akhirnya, khalayak menuntut, tata urus administrasi khalayak yang efisien, efektif, dan tidak korup. Memperkuat pergerakan satu data berbasiskan konektisitas khususnya data kependudukan dan catatan sipil. Percepat servis kependudukan. Tidak menanti beberapa bulan e-KTP baru keluar.

Karena, sebenarnya, administrasi itu dari kata Latin, ‘ad’ dan ‘ministrare’, yang bermakna layani, menolong dan penuhi keperluan khalayak.

Open post

Dibuat “Merinding Disko” Saat Bertualang dalam Museum Kesehatan Surabaya

Sebuah bangunan museum dibangun oleh pengurusnya dengan arah untuk simpan bermacam koleksi benda lama (kuno) yang mengikuti perjalanan hidup anak manusia.

Sebuah museum disebutkan menarik karena mungkin bermacam benda kuno yang tersimpan, style arsitektur gedung yang jadi museum, manajemen yang baik, tatanan letak (layout) koleksi benda kuno dalam museum atau bahkan juga sarana pendukung yang ada dalam atau di luar gedung museum.

Prasasti penandatanganan Museum Kesehatan (dok. Mawan Sidarta) Surabaya sebagai kota tua sekalian metropolitan ke-2 sesudah Jakarta pasti mempunyai beberapa museum yang memikat. Diantaranya adalah Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH yang ada di Jalan Indrapura 17, Kemayoran, Krembangan – Surabaya.

Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH dahulunya adalah rumah sakit kelamin yang saat itu memakai istilah Instansi Penjakit Kelamin. Disahkan oleh Dr. J Leimena sebagai menkes saat itu. Penandatanganan prasasti dilaksanakan pada tanggal 10 November 1951. Sementara upacara penempatan batu pertama dilaksanakan oleh Heronimus Widodo Soetopo.

Terlihat depan gedung Museum Kesehatan Surabaya (dok. Mawan Sidarta) Sesudah lewat rangkaian pembaruan dan pembaruan, pada tanggal 16 Desember 2003 museum disahkan oleh Dr. Soemartono DHSA sebagai kepala Pusat Riset dan Peningkatan Servis Tehnologi Kesehatan Surabaya (Puslitbang Yantekkes).

Museum Kesehatan Surabaya tidak terlepas dari layanan seorang pelopor namanya DR. dr. Haryadi Suparto DOR MSc APU. Selang satu tahun selanjutnya yakni tanggal 14 September 2004, Achmad Sujudi yang saat itu memegang sebagai menkes kembali resmikan pemakaian Museum Kesehatan Dr. Adhyatma MPH dan terbuka untuk didatangi warga umum.

Ticket masuk Museum Kesehatan Surabaya (dok. Mawan Sidarta) Untuk mengeruk info lebih dalam mengenai Museum Kesehatan Surabaya dan apa daya magnetnya, saya coba bercakap-cakap rileks dengan Husnan, seorang guide (pemandu) museum. Lawatan dan interviu kami kerjakan 2 tahun lalu, saat sebelum menyebarnya wabah Covid-19, persisnya tanggal 23 Juli 2018.

Beberapa suara yang tersebar di tengah-tengah warga, yang menjelaskan jika Museum Kesehatan itu menyeramkan kemungkinan tidak terlalu berlebih. Lah wong demikian saya masuk (dekat patung ganesha) dan melihat secara sekilas ruang samping dalam langsung saja bulu kuduk ini bergidik disko. Untung saja si guide dengan rendah hati sudi temani saya. Rasa takut sayapun jadi raib saat itu juga.

Open post

Terbelenggu Kata “Kapan”, Menikah pun Kejar-kejaran

Semenjak sekian tahun terakhir, saya sering mendapatkan pertanyaan “kapan nikah?”. Atau sekedar hanya “sudah punyai calon belum?”. Atau kritikan bersuara memberi tahu, seperti “habis ini buruan mencari pasangan”.

Juga pernah dalam satu peristiwa lebaran, mendadak salah satunya sanak saudara menanyakan dengan suara keheranan “lha, mana tunangannya?”.

Ehm! Untuk seorang yang masih belum betul-betul terpikir untuk menikah, rasanya sebel dan marah sich dengan beberapa pertanyaan itu. Entahlah semenjak kapan hidup saya seakan-akan jadi punya seseorang.

Ah, tetapi saya lupa. Kita hidup di budaya kelompok, seperti umumnya negara Asia yang lain. “Hidupku hidupku, hidupmu hidupku”, kemungkinan kasarnya demikian.

Belum juga, bila tiba ke acara pernikahan, entahlah berapakah kali saya dengar seseorang doakan saya. “Mudah-mudahan selekasnya susul ya sesudah ini”, kata salah seorang ibu rekan saya saat itu. Jujur saja bahkan juga waktu itu saya malas untuk mengaminkannya. Walau saya ketahui betul itu ialah doa yang bagus. Tetapi, apalah diri ini belum betul-betul memikir menuju situ.

Pertanyaan “kapan” yang mengurung

Sesungguhnya jika diingat kembali, tidak cuma pertanyaan “kapan nikah?”, tapi juga sering “kapan lulus kuliah?”, “kapan mulai kerja?”, “kapan punyai anak?”, atau “kapan sang kakak punyai adek?”.

Ya, kelihatannya kata “kapan” di sini memang mempunyai arti terakhir untuk sedikit mengganggu ketenangan batin seseorang. Walau di satu segi, juga bisa sesungguhnya kita menyaksikan beberapa pertanyaan ini sebagai wujud positif kepedulian seseorang pada kita, yaitu dengan sebatas mengingati.

Tetapi, sering yang menanyakan karena argumen kepo atau, entahlah, mengkritik kemungkinan. Saya individu sich seringkali berasa disinggung dibanding dihiraukan.

Dan makin pertambahan umur, makin bertambah yang bertanya mengenai “kapan” ini. Tetapi makin pertambahan umur, makin bertambah ketrampilan latih kebal diri pada pertanyaan “kapan”. Ya, yang diperlukan hanya, “cuekin saja”.

Open post

Yuk, Memasak Tongseng Ayam dengan Resep Praktis Ala “Me”

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, turuti salurannya, lalu kau rasakan, jika dunia itu cantik, tanpa satu pertentangan, nyaman, nyaman, teratur, seperti derap irama alam bersatu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tetapi tidak pernah berbeda, imbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah menyumbang…

Seterusnya

Tutup

Telah akhir pekan kembali nih. Dapat dong salurkan hoby. Mumpung liburan. Diantaranya ialah hoby mengolah. Hem, asyiknya masak apa ya? Udara dingin, ingin makan yang hangat-hangat. Tapi jika masaknya itu-itu saja, bosen nih. Etapi, jika masak yang repot tidak mau. Penginnya masak ringkas, tetapi nikmat.

Apa lagi untuk angkatan milenial, penginnya makanan yang nikmat, tetapi mudah dapatnya. Jika jajan setiap hari, selain boros, tidak bagus untuk kesehatan. Karena jika jajan itu kadang tidak terjaga kebersihannya, tidak tahu bahan yang digunakan, atau tidak tahu langkah mengolahnya, sudahkah sesuai standard atau belum. Lantas, masak apa dong, untuk pemula, mengolah yang tidak repot dan dapat dilaksanakan di dalam rumah?

Aha! Masak Tongseng Ayam, yok!

Loh? Bukanlah mengolah dengan bumbu tongseng itu repot? Eh, tidak ! Gampang kok. Cuman perlu kreasi dan cari langkah ringkas supaya bisa mengolah dengan gampang. Bagaimana triknya?

Ssst… sesungguhnya ini ialah resep rahasia, tapi tidak papah dech dipisah di sini. Buat kalian, angkatan milenial, supaya suka mengolah, karena mengolah sendiri itu rupanya tidak repot.

Yok, biarlah kreasi bekerja!

Umumnya nih, tongseng itu sama dengan daging kambing. Tapi tidak harus. Kamu dapat berkreatifitaskannya dengan daging ayam. Kadang antara kita ada yang tidak suka daging kambing atau disarankan kuranginya. Nah, mengolah tongseng ayam itu salah satunya jalan keluar supaya masih dapat nikmati tongseng. Selain bisa lebih cepat masak, lebih gampang.

So, rahasianya ialah memadankan bumbu instant dengan bumbu alami. Tsaaah… hasilnya masih cetar dan sedap. Upayakan saat menggunakan bahan dan bumbu instant, yang telah sesuai SNI, ya. Karena lebih terjaga mutunya. Mudah kok carinya. Di pasar atau mini pasar.

Baik, persiapkan bahan dan bumbunya lebih dulu. Baca, ya.

Bahan yang dipakai:

  • 500 g daging ayam yang telah dipotong dan dibersihkan sampai bersih.
Open post

Arisan RT, Perekat atau Pemutus Silaturahmi?

sepupunya telah 2 bulan belum bayar arisan. Ingin ditagih, tagih ke mana. Alamat anyarnya juga kami tidak tahu.”

Sang D selanjutnya menghubungi sepupunya lainnya, “Bayarlah arisan adikmu, malu. Di daerah itu ia pergi ninggalin hutang.”

Pada akhirnya sepupu D tiba ke tempat itu, membayar hutang adiknya. Hutangnya tidak banyak, tetapi malunya segunung.

Itu salah satunya cerita yang memperkuatku untuk malas tergabung arisan daerah. Entahlah RT, pengajian, atau komune apa saja. Beberapa orang memandang itu ciri-ciri orang tidak ingin berkawan, saya sich tidak ingin banyak argumen. Jika itu ukuran baik/tidaknya seorang masyarakat, ya biarlah.

Saat masih kerja, ada juga arisan antarkaryawan. Tujuh tahun saya di situ, tidak pernah sekalinya saya turut arisan. Ingin disebut tidak gaul? Dari kepentingan uang, hutang, sampai HP hang, entahlah punya sama-sama pegawai, sampai punya bos, saya yang bereskan.

Jadi pikirkan kembali untuk mengaitkan seorang tidak ingin berkawan, karena hanya dia tidak turut arisan.

Simak juga: Pulau Dengan harga Rumah

Factor selanjutnya karena mungkin saya malas berutang. Bayar arisan rasanya serupa dengan bayar cicilan. Saya tipikal penabung, bukan pengangsur. Walaupun yang ditabung tidak membukit, tetapi itu lebih menentramkan daripada uang belum pada tangan tetapi bon telah di muka mata.

Terima pada awal, di bulan-bulan akhir berasa lelahnya. Terima diakhir, harap-harap kuatir bila ada yang tidak bayar. Kasus pada awal artikel ini bukanlah salah satu yang pernah kusaksikan. Masihlah ada kasus yang lain bahkan juga kualami sendiri, walau tidak langsung.

Bahkan juga saat sebelum kita pisah rumah dari orangtua, atau belum menikah, penawaran untuk turut arisan telah tiba dari koordinator daerah (apa istilah persisnya ?)

Mamakku tidak senang berutang, tetapi senang turut arisan. Argumennya arisan sama dengan menabung. Jadi bukan satu dua account (tentu bukan ini istilahnya) yang Mamak punyai. Untuk satu barisan arisan, Mamak punyai sampai tiga. Umumnya satu atau dua digunakan namaku.

Open post

Rupiah, Dinar-Dirham, dan Pengecualiannya

Uang sebagai alat ganti adalah instrumen yang diketemukan manusia kekinian sesudah manusia tinggalkan babak purbakala yang lakukan transaksi bisnis dengan ganti mengganti atau barter yang berada di indo.

Uang memiliki arti bermakna dalam memengaruhi kehidupan manusia kekinian karena nilai yang terdapat didalamnya.

Dengan nilai uang seorang dapat tentukan penawaran harga satu produk atau layanan supaya bisa terjadi persetujuan atas transisi yang diinginkan baik oleh produsen atau customer secara adil.

Nilai uang bisa juga tentukan gengsi dan harkat martabat seorang. Semakin banyak seorang dapat kumpulkan uang semakin naik gengsi dan harkat martabatnya di mata warga.

Majalah Forbes cermat menyaksikan keperluan rasa ingin ketahui berapa kaya seorang, dengan membuat tiap tahun rangking kekayaan

beberapa konglomerat dunia, atau orang kaya lokal tiap negara, terhitung Indonesia. Tiap tahun saat Forbes umumkan ranking beberapa orang kaya selalu mengundang perhatian warga untuk memerhatikan dan mengomentarinya dalam bermacam versus.

Nilai uang tidak cuma bermakna untuk perseorangan dalam mengurus usaha dan hidupnya, tetapi juga bermanfaat untuk Pemerintahan untuk mengelola keuangan dan ekonomi negara supaya bisa diatur untuk menyejahterakan rakyatnya.

Uang dibikin dari persyaratan, bahan yang tahan lama dari aktivitas dipindahkan tangankan, mudah dibawa dan relatif susah untuk dipalsukan. Pada jaman dulu uang dibikin dari logam mulia atau semacam logam, salah satunya dinar, dirham.

Di Indonesia sampai saat ini juga masih dibuat uang dengan bahan semacam logam, misalkan, uang koin rupiah.

Selanjutnya seterusnya saat ini biasanya di dunia, uang diciptakan berbahan kertas atau plastik atau dikenali dengan uang fiat (Fiat Money), salah satunya uang kertas rupiah, US dollar, ringgit kertas, dollar Australia.

Uang memiliki bahan kertas atau diberi nama “Uang Fiat” (Fiat Money) pemakaiannya pertama kalinya. Sterdaftar di Tiongkok seputar tahun 1000 Masehi (Wikipedia).

Selanjutnya belakangan ini kita mengenali uang di dunia maya yang diberi nama uang elektronik, contoh. Skartu Brizzi dari BRI, kartu Flazz dari BCA dan lain-lain, atau uang yang dipakai. Sdalam pembayaran lewat Genius, Gopay, Ovo, Bitcoin, Etherium dan lain-lain.

Pengacara dan Dosen Kampus Trisakti

Seterusnya

Tutup

Open post

Siasat Mencari “Kui-jin”, agar Hidup Lebih Hoki

Pegiat rantai supply dan penyediaan barang/layanan di industri minyak dan gas Indonesia dengan minat di dunia rekreasi, politik, sosial, budaya, kepemudaan, sastra dan organisasi. Penulis buku Horizon terbitan Ellunar Penerbit/publisher dan urun menulis buku antologi puisi Elipsis terbitan Ellunar Penerbit/publisher dan Di Balik Ruangan Tanpa Garis Jumpa terbitan Alinea Publishing. Pendiri dan praktisi literasi Sudut Baca Muaradua (POBAMA) sebagai induk Taman Baca Mekakau Ilir (TABAMA), Galeri Baca Ranau (GABARA) dan Taman Baca Padang Bindu (TAPADU)

Seterusnya

Tutup

HIV/AIDS, JAUHI PENYAKITNYA BUKAN ORANGNYA.

Seputar nyaris sepuluh tahun kemarin, saat masih aktif beraktivitas di salah satunya cabang dari organisasi kepemudaan. Spaling besar di dunia yakni AIESEC Local Committee Bandung, kami pernah. Smengadakan sebuah project sosial yang namanya Proyek Based on Exchange (PBoX) HIV/AIDS.

PBoX HIV/AIDS ini berupa sebuah project sosial yang mengikutsertakan beberapa pemuda transisi. Sdi luar negeri dan beberapa komune yang perduli dengan HIV/AIDS di kota Bandung.

Arah aktivitas ini untuk menghidupkan kesadaran warga mengenai HIV/AIDS dan mengurangi stigma negatif pada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

Publikasi mengenai HIV AIDS bersama rekanan transisi dari Tiongkok di Car Free Day Dago.Sumber: dokumentasi individu Sepanjang project ini berjalan kami teratur bersama beberapa rekanan kami peserta transisi dari beberapa negara melangsungkan beberapa acara. Sseumpama dialog dan seminar dengan beberapa ODHA, lakukan publikasi dan seminar mengenai HIV/AIDS di Car Free Day Dago dan beberapa tempat yang lain. Sbahkan juga tiba dan berperan serta langsung dengan laga bola di Lapangan UPI bersama beberapa ODHA dari Yayasan Rumah Cemara.

Menggedor Stigma Negatif Pada Beberapa ODHA

Mempersiapkan Acara PBoX HIV AIDS bersama rekanan transisi dari Selandia Baru dan Tiongkok. Sumber: dokumentasi individu

Salah satunya seminar yang kami selenggarakan untuk tingkatkan kepedulian warga pada bahaya HIV AIDS. Sumber: dokumentasi individu

Apa yang pertama tebersit dalam pemikiran kita mengenai beberapa orang yang menanggung derita HIV/AIDS (ODHA). Kemungkinan umumnya dari kita langsung akan memikir negatif mengenai mereka. Dalam pikiran kita mereka ialah beberapa orang yang “nakal” dengan pegaulan bebas dan terjangkit dari rutinitas seksual yang liar dan penggunaan narkoba. Sdengan jarum suntik secara berganti-gantian dan lain-lain.

Posts navigation

1 2 3 4 5 6
Scroll to top
error: Content is protected !!